4.000 Batang Rokok per Tahun, Risiko Penyakit Mengintai Perokok Indonesia – Tingkat konsumsi rokok di Indonesia terus menunjukkan tren
kenaikan. Data terbaru mencatat jumlah perokok laki-laki mencapai sekitar 63,2 juta orang,
sementara perokok perempuan berada di kisaran 11,6 juta orang. Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi (PR Kesmaszi)
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tati Suryati, menjelaskan bahwa tingginya konsumsi
rokok berbanding lurus dengan meningkatnya risiko munculnya berbagai penyakit. Menurut Tati, jumlah perokok pria di Indonesia
menyumbang lebih dari separuh populasi perokok di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebut membuat risiko munculnya
penyakit akibat rokok di Indonesia berpotensi terjadi lebih cepat dibandingkan negara lain yang tingkat konsumsinya lebih rendah.
Ia menambahkan bahwa konsumsi tembakau di Tanah Air telah berkembang menjadi ancaman serius,
tidak hanya bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi ketahanan ekonomi nasional.
Hilangnya 2 Ribu Tahun Produktif Batang Rokok
Tren prevalensi perokok di Indonesia tercatat terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir, khususnya pada kelompok laki-laki dan usia remaja.
Berdasarkan data selama periode 1990 hingga 2021, baik perokok remaja usia 10–15 tahun maupun kelompok dewasa usia di atas 15 tahun
menunjukkan peningkatan yang konsisten. Kenaikan tersebut didominasi oleh perokok laki-laki, yang angkanya jauh melampaui perokok
perempuan. Selain jumlah perokok yang besar, tingkat konsumsi rokok per individu di Indonesia juga tergolong tinggi.
Rata-rata, seorang perokok di Indonesia menghabiskan sekitar 4.190 batang rokok setiap tahun.Di tingkat regional ASEAN,
tercatat sekitar 33,1 juta perokok pria mengisap lebih dari 15 batang rokok per hari. Indonesia memberikan kontribusi signifikan
terhadap angka tersebut, dengan lebih dari 15 juta perokok pria termasuk dalam kategori konsumsi berat.
Tati menjelaskan adanya pola dosis-respons dalam konsumsi rokok, di mana semakin tinggi jumlah rokok yang dikonsumsi,
semakin cepat pula dampak penyakit muncul dalam tubuh seseorang. Dampak kesehatan dari tingginya konsumsi tembakau
tercermin pada meningkatnya angka kematian akibat penyakit tidak menular. Pada 2021,
penyakit kardiovaskular menjadi penyebab kematian tertinggi yang berkaitan dengan rokok, dengan angka kematian mencapai
59,60 per 100.000 penduduk. Kerugian akibat penyakit ini tidak hanya diukur dari kematian,
tetapi juga melalui indikator Disability-Adjusted Life Years (DALYs), yakni jumlah tahun produktif yang hilang
akibat kematian dini atau disabilitas.
Picu Tingginya Angka Dalam Kematian
Untuk kasus penyakit kardiovaskular,Risiko Penyakit
Indonesia kehilangan hampir 2.000 tahun produktif per 100.000 penduduk, dengan total estimasi sekitar 5,4 juta tahun produktif yang hilang.
Beban penyakit tersebut berdampak langsung pada perekonomian nasional. Pada 2019,
kerugian ekonomi akibat konsumsi tembakau diperkirakan berada di rentang Rp 184,36 triliun hingga Rp 410,76 triliun,
atau setara 1,16–2,59 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Secara khusus,
BPJS Kesehatan tercatat harus mengalokasikan dana sekitar Rp 10,4 triliun hingga Rp 15,6 triliun
untuk membiayai perawatan penyakit terkait rokok. Namun, Tati menilai angka tersebut kemungkinan
masih lebih rendah dari kondisi riil di lapangan. Ia menjelaskan bahwa perhitungan tersebut masih bersifat estimasi
karena umumnya hanya mencakup diagnosis utama, tanpa memperhitungkan komplikasi maupun penyakit penyerta.
Selain itu, data yang tersedia kerap hanya mencerminkan layanan rujukan tingkat lanjutan dan belum menggambarkan
keseluruhan beban ekonomi yang sesungguhnya. Di sisi lain,
meskipun Kementerian Kesehatan melalui Rencana Strategis 2020–2024 menargetkan penurunan prevalensi perokok
dengan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), pelaksanaannya masih menghadapi banyak hambatan.
Data 2019 menunjukkan bahwa 83 persen kabupaten dan kota telah memiliki regulasi KTR. Namun,
survei mengungkapkan lebih dari separuh remaja non-perokok masih terpapar asap rokok di lingkungan sekolah,
sementara hampir setengahnya terpapar di rumah.
Situasi tersebut turut berkontribusi pada tingginya kasus pneumonia pada balita yang berkaitan dengan paparan asap rokok
di lingkungan keluarga. Tati menegaskan bahwa konsumsi tembakau bukan
sekadar pilihan gaya hidup,melainkan ancaman serius bagi kesehatan publik yang menimbulkan
tekanan besar pada fiskal negara dan keberlanjutan sistem jaminan kesehatan nasional.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer untuk deteksi dini penyakit akibat rokok,serta
perlunya strategi pengendalian tembakau yang lebih tegas dan efektif demi melindungi generasi produktif Tuna55 Indonesia di masa mendatang.