Anyaman bambu asal Desa Buniayu, Kabupaten Tangerang, Banten menjadi salah satu kerajinan lokal yang kini tengah didorong untuk menembus pasar internasional. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi antara masyarakat setempat dan mahasiswa London School of Public Relations (LSPR) dalam program bertajuk “The Story of Buniayu.”
Melalui program tersebut, mahasiswa LSPR mendampingi warga Buniayu yang secara turun-temurun menggantungkan mata pencaharian pada produksi anyaman bambu. Fokusnya adalah membantu para pengrajin memperluas pemasaran, terutama melalui platform digital.
Pendiri Saung Bakul Buniayu, Mardani, mengungkapkan bahwa masyarakat Buniayu telah lama konsisten memproduksi anyaman sebagai salah satu mata pencaharian sekaligus upaya melestarikan budaya. Namun, keterbatasan pengetahuan digital membuat pemasaran produk belum optimal.
Pengrajin di Buniayu mayoritas berusia 35–50 tahun, sehingga pemanfaatan pemasaran digital masih rendah, ujar Mardani dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/1/2026).
Lewat program ini, anak-anak muda dari keluarga pengrajin diberi pelatihan mengenai strategi pemasaran digital agar dapat membantu mendukung usaha keluarganya.
Yang hadir hari ini adalah anak dan cucu para pengrajin. Tujuannya agar mereka bisa mengembangkan pasar digital sebagai salah satu metode penjualan, tambahnya.
Inovasi Produk: Dari Alat Rumah Tangga ke Fashion
Mardani menjelaskan bahwa pendampingan mahasiswa juga mendorong pengrajin untuk memperluas jenis produk. Jika sebelumnya fokus pada kebutuhan rumah tangga, kini mereka mulai mengembangkan produk anyaman bernuansa fashion.
Awalnya kami memproduksi sekitar 20 jenis alat rumah tangga. Namun sekarang kami juga membuat produk fashion, dan justru itu yang menjadi best seller, tutur Mardani.
Ia berharap pengembangan desain dan pemasaran digital akan mampu meningkatkan nilai ekonomi produk, sekaligus membuka peluang untuk menembus pasar internasional.
Dorong Penguatan UMKM dan Peningkatan Omzet
Mardani menyebut, selain bertani, sebagian besar warga Buniayu bekerja sebagai pengrajin anyaman bambu. Dengan digitalisasi pemasaran, ia mengakui adanya peningkatan signifikan dalam jumlah penjualan.
Kami sebelumnya minim dokumentasi gambar dan video. Dengan bantuan mahasiswa LSPR, kami sangat terbantu. Untuk pasar lokal, produk kami sudah sampai ke IKN, bahkan ada pesanan handcarry hingga ke Turki. Omzet meningkat dari Rp 2–3 juta menjadi Rp 5–7 juta per bulan, ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara The Story of Buniayu, Moza Febrianita, mengatakan bahwa program ini bertujuan memperkuat UMKM sekaligus menjaga keberlanjutan kerajinan tradisional melalui pelatihan digital dan pengembangan desain.
Melalui program International Mentoring and Workshop Programme (IMWP) 2026, produk anyaman bambu Buniayu akan diperkenalkan ke Malaysia, kata Moza.
Kolaborasi Lapangan dan Agenda Internasional
Dalam kegiatan pendampingan, mahasiswa terjun langsung bekerja bersama para pengrajin Saung Bakul Buniayu serta penggerak lokal, Kang Dhany. Kolaborasi tersebut juga melibatkan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro.
Kolaborasi ini membuka peluang pengembangan produk anyaman agar lebih inovatif namun tetap mempertahankan nilai tradisional, ujar Moza.
Tahap main event akan ditutup dengan Mini Exhibition di Malaysia, menampilkan produk anyaman Buniayu ke hadapan audiens Tuna55 internasional.
Setelahnya, tahap post-event akan mencakup pembuatan video dokumenter, pengolahan konten media sosial, serta kunjungan evaluasi ke Desa Buniayu untuk memantau perkembangan lanjutan.
Desa Buniayu sendiri dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan anyaman bambu di Kabupaten Tangerang, menghasilkan beragam produk mulai dari tas, wadah serbaguna, hingga perlengkapan rumah tangga dengan teknik tradisional yang masih dilestarikan hingga kini.