Sentimen Geopolitik Angkat Harga Emas, AS–Iran Disorot, Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026,
atau Sabtu pagi waktu Jakarta. Penguatan ini terjadi setelah pasar memanfaatkan koreksi tajam sebelumnya,
sekaligus dipengaruhi oleh sentimen geopolitik terkait pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Oman.
Kenaikan harga emas juga didukung oleh pelemahan dolar AS, sehingga membuat logam mulia tersebut lebih terjangkau
bagi investor global yang menggunakan mata uang selain dolar.
Harga Emas Bangkit Setelah Koreksi Tajam
Mengutip CNBC, Sabtu (7/2/2026), harga emas spot melonjak 3,9% ke level USD 4.954,92 per ounce pada pukul 14.18
waktu setempat (19.18 GMT). Kenaikan ini berhasil memangkas penurunan tajam yang terjadi di perdagangan Asia,
setelah emas sempat anjlok 3,9% sehari sebelumnya.
Secara mingguan, emas diproyeksikan membukukan kenaikan sekitar 2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April
ditutup menguat 1,8% ke posisi USD 4.979,80 per ounce.
Di saat yang sama, indeks dolar AS melemah sekitar 0,2%. Kondisi ini memberikan dorongan tambahan bagi emas batangan
karena menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar Amerika Serikat.
Analis Senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyebut penguatan ini didorong oleh aksi beli yang memanfaatkan momentum harga murah.
Menurutnya, pelaku pasar masih cukup optimistis terhadap prospek emas.
Meski demikian, Wyckoff menilai pemulihan emas belum sepenuhnya solid. Tanpa adanya pemicu geopolitik besar,
harga emas dinilai masih sulit mencetak rekor baru. Namun, sebagai aset safe haven,
emas tetap diminati di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Perak dan Logam Mulia Lain Masih Berfluktuasi
Berbeda dengan emas, pergerakan perak masih diwarnai volatilitas tinggi. Harga perak spot melonjak 8,6% ke USD 77,33 per ounce
setelah sempat tertekan di bawah USD 65 pada awal sesi. Kendati demikian, secara mingguan perak masih mencatatkan penurunan lebih dari 8,7%.
Wyckoff menilai lonjakan perak lebih banyak dipicu oleh spekulasi agresif di posisi beli. Ia juga mengingatkan bahwa emas dan perak,
setelah menikmati fase kenaikan panjang, kini mulai memasuki fase penurunan siklus komoditas.
Sementara itu, CME Group kembali menaikkan persyaratan margin kontrak berjangka emas dan perak untuk ketiga kalinya dalam dua pekan terakhir.
Langkah ini dilakukan untuk meredam risiko akibat lonjakan volatilitas pasar.
Di sisi lain, platinum spot tercatat naik 5,4% ke USD 2.093,50 per ounce, sedangkan paladium menguat 6,2% ke USD 1.717,05 per ounce.
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 5 Februari 2026, emas dan perak sempat tertekan hebat.
Harga perak bahkan anjlok hingga 16% dalam satu hari, sementara emas melemah sekitar 2%.
Data LSEG menunjukkan perak sempat melonjak tajam sebelum akhirnya jatuh hampir 30% dari puncaknya.
Direktur Pelaksana Lighthouse Canton, Sunil Garg, menilai gejolak ini dipicu oleh tingginya posisi spekulatif, penggunaan leverage,
serta transaksi berbasis opsi, bukan karena permintaan fisik semata. Meski fundamental permintaan perak dinilai masih kuat,
ia menyarankan investor menunggu hingga tekanan spekulatif benar-benar mereda.
Goldman Sachs juga menyoroti bahwa volatilitas ekstrem ini dipicu oleh perubahan perilaku lindung nilai, pemicu stop-loss investor,
serta likuiditas pasar yang lebih ketat, khususnya di pasar London.
Kondisi tersebut membuat pergerakan harga perak jauh lebih liar dibandingkan emas.
Bahkan, volatilitas perak mulai disandingkan dengan fenomena saham meme,
di mana lonjakan Tuna55 harga dinilai lebih didorong oleh momentum dan euforia pasar ketimbang nilai fundamental jangka panjang.