Jabar Berpeluang Jadi Percontohan Nasional Pengelolaan Sampah dan Pangan – Masalah susut dan sisa pangan menjadi
salah satu penyumbang utama timbunan sampah di Jawa Barat. Menyikapi hal tersebut,
Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) bersama Pemerintah Provinsi Jawa
Barat menyiapkan langkah strategis untuk menekan kehilangan pangan di berbagai lini.
Direktur Eksekutif IBCSD, Indah Budiani, menilai Jawa Barat memiliki peluang besar menjadi contoh nasional
dalam pengelolaan susut dan sisa pangan. Faktor jumlah penduduk yang besar, kekuatan ekonomi pangan,
serta dukungan kebijakan daerah dinilai menjadi modal utama menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Jabar Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Pengurangan Sampah Pangan
Indah menegaskan bahwa persoalan susut dan sisa pangan tidak semata berkaitan dengan lingkungan,
tetapi juga menyangkut efisiensi, daya saing, dan keberlanjutan usaha. Karena itu, ia mendorong kemitraan erat
antara sektor publik dan swasta agar upaya pengurangan dapat berjalan terukur dan memberikan dampak nyata.
Melalui program Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan (GRASP) menuju 2030, IBCSD menggalang kolaborasi multipihak
yang sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12.3. Upaya ini diperkuat dengan forum dialog
bersama pemerintah daerah untuk membangun sistem pangan berkelanjutan dan ekonomi hijau di Jawa Barat.
Peran Strategis Jawa Barat dalam Ketahanan Pangan Nasional
Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Jawa Barat, Eka Jatnika Sundana, menegaskan posisi strategis provinsi ini
dalam agenda nasional pengurangan food loss and waste. Dengan populasi sekitar 50,7 juta jiwa, Jawa Barat menjadi
wilayah dengan tingkat konsumsi pangan tertinggi di Indonesia.
Besarnya aktivitas ekonomi pangan serta status Jawa Barat sebagai lumbung pangan nasional menempatkannya di pusat rantai pasok,
dari produksi hingga konsumsi. Jika susut dan sisa pangan tidak ditangani secara serius dan terintegrasi, tingginya volume sampah makanan
yang mencapai hampir 40 persen dari total timbulan harian dan berpotensi memperburuk beban lingkungan,
kesehatan masyarakat, dan efisiensi ekonomi Tuna55 dalam jangka panjang.