You are currently viewing Krisis Kemanusiaan di Sudan Memburuk, Dua Wilayah Alami Kelaparan Akut

Krisis Kemanusiaan di Sudan Memburuk, Dua Wilayah Alami Kelaparan Akut

Situasi kemanusiaan di Sudan terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Lembaga pemantau ketahanan pangan dunia yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa kondisi kekurangan gizi akut telah mencapai tingkat darurat di dua wilayah tambahan di Darfur Utara, yakni Um Baru dan Kernoi.

Krisis ini berlangsung di tengah konflik bersenjata berkepanjangan yang telah memicu pengungsian besar-besaran serta meningkatnya kekerasan bernuansa etnis di berbagai daerah, sebagaimana dilaporkan Japan Today, Jumat (6/2/2026).

Laporan Terbaru di Sudan

Dalam laporan terbarunya yang dirilis Kamis (5/2), Integrated Food Security Phase Classification (IPC) mengungkapkan bahwa angka kekurangan gizi akut pada anak-anak di bawah lima tahun di Um Baru hampir dua kali lipat dari ambang batas kelaparan. Kondisi serupa juga tercatat di wilayah Kernoi.

Meskipun belum diumumkan sebagai status kelaparan secara resmi, IPC menegaskan bahwa temuan terbaru tersebut menunjukkan situasi yang sangat kritis dan membutuhkan tindakan darurat secepatnya.

Um Baru dan Kernoi berada di dekat perbatasan Chad dan dalam beberapa bulan terakhir menjadi lokasi tujuan ribuan pengungsi yang melarikan diri dari distrik al-Fashir. Wilayah al-Fashir sebelumnya telah dinyatakan mengalami kelaparan sebelum akhirnya dikuasai oleh Rapid Support Forces (RSF). Upaya kelompok bersenjata tersebut untuk memperkuat kendali wilayah kemudian memicu bentrokan lanjutan di Kernoi dan Um Baru.

Konflik antara RSF dan militer Sudan yang pecah hampir tiga tahun lalu telah memperparah krisis pangan di berbagai wilayah negara tersebut. Pada November lalu, IPC untuk pertama kalinya mengonfirmasi status kelaparan di al-Fashir dan Kadugli. Di Kadugli, militer Sudan pada Selasa menyatakan berhasil mematahkan pengepungan kota yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Secara nasional, jumlah kasus kekurangan gizi akut terus meningkat tajam. IPC memperkirakan hampir 4,2 juta kasus akan terjadi sepanjang tahun ini, meningkat dari sekitar 3,7 juta kasus yang tercatat pada 2025.

Akses Terbatas dan Krisis Pendanaan

IPC menilai keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan penyelamat nyawa di Darfur Utara sebagai salah satu faktor utama yang memperburuk kondisi. Di Kernoi, hanya sekitar seperempat anak yang mengalami Malnutrisi Akut Parah tercatat menerima perawatan medis yang dibutuhkan. Sementara itu, di wilayah Kordofan Raya, konflik bersenjata telah menghambat aktivitas pertanian serta jalur distribusi pangan.

Respons kemanusiaan di Sudan juga tertekan oleh krisis pendanaan global. CARE International, salah satu lembaga bantuan utama di Sudan, menyatakan bahwa pemangkasan dana dari para donor telah membatasi kemampuan mereka dalam menjangkau kelompok paling rentan.

“Kelaparan kini benar-benar telah mengakar di sejumlah wilayah tempat kami bekerja,” ujar Penasihat Advokasi Kemanusiaan CARE, Elizabeth Courtney.

Menurut Courtney, tambahan pendanaan sangat mendesak untuk memperkuat pasokan pangan menjelang musim hujan dan musim paceklik, ketika cadangan makanan dari panen sebelumnya semakin menipis atau telah habis sama sekali. Tanpa dukungan cepat dari komunitas internasional, jutaan warga Sudan terancam menghadapi kondisi kelaparan yang jauh lebih parah dalam waktu dekat. Tuna55

Leave a Reply